JAKARTA, Makansedap.id - Mabuk atau kondisi tidak nyaman setelah mengonsumsi alkohol berlebihan kerap ditandai dengan sakit kepala, mual, lelah, hingga sulit berkonsentrasi.
Meski sering dikaitkan dengan dehidrasi, para ahli menegaskan bahwa penyebab mabuk jauh lebih kompleks dan melibatkan berbagai proses dalam tubuh.
Dokter spesialis gastroenterologi, Sumona Bhattacharya, menjelaskan mabuk bersifat sangat individual.
Setiap orang memiliki ambang batas berbeda terhadap konsumsi alkohol, yang dipengaruhi oleh berat badan, jenis kelamin, metabolisme, serta kebiasaan sebelum dan sesudah minum.
BACA JUGA:Warung Bu De Wong Ndeso Bikin Nagih, Menu Kuliner Autentik Khas Lamongan
Alfred F Tallia menyebutkan, mabuk dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan pada tingkat sel hingga ketidakseimbangan mineral dalam tubuh. Bahkan, hingga kini belum ada obat pasti untuk menghilangkan mabuk selain menghindari konsumsi alkohol.
Alkohol diketahui merupakan zat neurotoksin yang dapat memengaruhi sistem saraf. Setelah dikonsumsi, alkohol diproses oleh hati menjadi senyawa beracun bernama asetaldehida.
Menurut Jonathan Avery, asetaldehida dapat menyebabkan mual, kemerahan pada wajah, hingga sakit kepala. Semakin banyak alkohol yang diminum, semakin tinggi kadar racun ini dalam tubuh, sehingga memicu peradangan yang berdampak pada otak dan jaringan tubuh.
Jika tubuh kekurangan enzim untuk memecah asetaldehida, efek mabuk bisa terasa lebih parah dan bertahan lebih lama.
BACA JUGA:19 April 2026, Le Bleu by K Club Rayakan Anniversary Ke-2 dengan Pesta Pantai
Selain itu, alkohol memiliki efek diuretik yang meningkatkan produksi urine, sehingga tubuh kehilangan cairan dan elektrolit penting seperti natrium dan magnesium. Kondisi ini menyebabkan tubuh terasa lemas, pusing, dan tidak bertenaga.
Ahli toksikologi, Kelly Johnson Arbor, menyebutkan bahwa dehidrasi membuat tubuh berada dalam kondisi tidak nyaman dan memperparah gejala mabuk
Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi alkohol memicu pelepasan sitokin, yaitu protein yang berperan dalam respons imun dan peradangan. Peningkatan sitokin ini dapat menyebabkan nyeri tubuh, sakit kepala, serta brain fog atau kesulitan berpikir jernih.
Gangguan Otak dan Sistem Saraf
Alkohol turut memengaruhi neurotransmiter di otak, termasuk glutamat yang berperan dalam fungsi kognitif. Saat efek alkohol mereda, terjadi lonjakan aktivitas glutamat yang memicu rasa gelisah, cemas, dan mudah tersinggung.