SAMARKAND, Makansedap.id – Krisis di Timur Tengah kini tidak lagi hanya soal konflik bersenjata, melainkan telah bergeser menjadi ancaman nyata bagi urusan perut untuk seluruh penduduk dunia, khususnya di kawasan Asia dan Pasifik.
Lonjakan harga energi akibat gangguan jalur distribusi global dilaporkan mulai mencekik sektor pertanian melalui kenaikan harga pupuk yang tak terkendali.
Senior Director Asian Development Bank (ADB), Qingfeng Zhang, dalam keterangannya di Samarkand, Uzbekistan, memperingatkan, guncangan kali ini berbeda dengan krisis akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Jika sebelumnya gangguan terjadi pada pasokan gandum, kini ancaman datang dari membengkaknya biaya produksi pangan.
“Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dan pupuk dunia kini mengalami gangguan. Hal ini memicu kenaikan biaya bahan bakar, pengapalan, hingga asuransi yang berdampak langsung pada kantong petani,” ujar Zhang dalam blog resmi ADB yang dibaca Makansedap.id, Senin, 11 Mei 2026.
Petani Terjepit, Produksi Terancam
Kenaikan harga pupuk urea, yang sepertiga pasokan dunianya melewati Selat Hormuz, menempatkan petani dalam dilema besar. Biaya produksi yang meningkat lebih cepat dibandingkan harga jual hasil panen membuat banyak petani terpaksa mengurangi penggunaan pupuk.
Langkah pengurangan input ini diprediksi akan menjadi bumerang bagi ketahanan pangan.
Di Filipina, pemerintah setempat bahkan telah memberikan peringatan keras bahwa produksi padi nasional bisa merosot antara 20 hingga 50 persen jika tidak ada intervensi segera.
BACA JUGA:Rahasia 200 Tahun Evian, CEO Danone Sebut Merek Ini Sebagai Anugerah, Apa Alasannya?
Kondisi serupa mulai dirasakan oleh petani di Thailand, Vietnam, dan sebagian wilayah Indonesia, ketika minat tanam menurun akibat biaya yang tidak lagi sebanding dengan keuntungan.
Negara Importir Paling Rentan
Beberapa negara yang sangat bergantung pada impor energi dan pupuk, seperti Sri Lanka, Myanmar, Kamboja, dan Laos, disebut sebagai wilayah yang paling rentan terkena dampak akut.
Sementara itu, negara dengan ekonomi lebih besar seperti Indonesia, India, dan Filipina, menghadapi tekanan fiskal yang berat karena harus menanggung beban subsidi energi dan pupuk demi menjaga stabilitas harga pangan di tingkat rumah tangga.
"Harga tinggi di pasar tidak hanya mengurangi daya beli masyarakat, tetapi juga memaksa rumah tangga menurunkan kualitas konsumsi makanan mereka. Ini adalah guncangan sistemik yang merambat dari ladang hingga ke urusan perut masyarakat," tambah Zhang.