Keempat, Pencetakan 3D. Hasil olahan ragi dicampur dengan serat, pati, dan pemanis, lalu dimasukkan ke dalam printer 3D untuk dicetak menjadi biskuit berbentuk huruf Yunani µ (mu).
Menunggu Uji Rasa Formal
Berdasarkan pengujian laboratorium, materi biskuit µBites telah dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan.
Meskipun tim peneliti masih menunggu izin kelembagaan untuk melakukan uji rasa (taste test) pada manusia, pengujian aroma awal menunjukkan hasil positif.
BACA JUGA:Gempar, Burger King Resmi 'Pecat' Maskot Ikonisnya demi Ambil Hati Konsumen
Para partisipan menilai biskuit ini memiliki aroma manis layaknya biskuit sungguhan dan siap mengonsumsinya dalam kondisi darurat.
Selain untuk astronot di luar angkasa, teknologi ini dirancang untuk menyuplai makanan di wilayah bencana, kapal selam, hingga daerah ekstrem yang sulit dijangkau bahan pangan konvensional.
Meski berpotensi besar, tantangan utama pembuatan biskuit ini terletak pada biaya produksi yang masih sangat tinggi, yakni sekitar US$ 60 (sekitar Rp 900 ribu) per kilogram.
Para ahli juga menekankan bahwa teknologi ini merupakan solusi pangan darurat dan pakan alternatif, bukan cara utama untuk menghabiskan ratusan juta ton sampah plastik dunia.
Para peneliti berharap biskuit µBites dapat terus dikembangkan agar lebih efisien dan siap dikonsumsi masyarakat luas dalam beberapa tahun ke depan.
Video berikut menjelaskan secara visual bagaimana limbah botol plastik diolah hingga dicetak menjadi makanan tinggi protein melalui proyek NASA ini:
Tautan video di atas relevan karena menampilkan ringkasan visual mengenai teknologi pengolahan limbah plastik menjadi biskuit µBites dan potensi manfaatnya bagi krisis pangan.