Konsumsi Makanan Manis dan Karbo saat Sahur Bikin Cepat Lapar
Memperbanyak porsi nasi, karbohidrat atau makanan manis saat sahur bisa memicu rasa lapar lebih cepat. -Makansedap.id-YouTube
JAKARTA, Makansedap.id - Dokter dan ahli gizi masyarakat Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, mengatakan, konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar saat sahur bukan strategi yang tepat untuk menahan lapar selama berpuasa.
Ahli gizi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu meluruskan anggapan banyak orang selama ini, bahwa memperbanyak porsi nasi, karbohidrat atau makanan manis saat sahur bisa membuat tubuh lebih kuat menjalani puasa. Padahal, menurut dia, pola tersebut justru dapat memicu rasa lapar lebih cepat.
"Yang pasti jadi gampang lapar karena cepat dicerna menjadi gula darah. Tergantung juga dengan jenis karbonya,” kata Tan Shot Yen seperti dilansir dari Antaranews.com yang dibaca Makansedap.id, Selasa, 24 Februari 2026.
Karbohidrat sederhana seperti gula pasir dan sirup cepat meningkatkan kadar gula darah. Tubuh kemudian memproduksi insulin untuk menurunkan gula tersebut sehingga kadar gula darah bisa turun kembali dalam waktu singkat dan memicu rasa lapar.
BACA JUGA:Ini Penyebab Munculnya Rasa Kantuk saat Sahur dan Berbuka Puasa
"Jika sering terjadi dan rutin, risiko diabetes muncul,” ujar dia.
Sebaliknya, dia menyarankan masyarakat memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau jagung yang lebih lambat dicerna sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah saat puasa.
"Jika karbo kompleks seperti nasi merah, ubi, jagung, biasanya kita tidak mungkin makan banyak-banyak," kata dia.
Selain memperhatikan jenis karbohidrat, dia menekankan pentingnya asupan serat yang cukup saat sahur. serat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sekaligus menjaga gula darah tetap stabil sepanjang hari.
BACA JUGA:Sahur Makanan Bergizi Seimbang Bantu Cegah Kantuk saat Berpuasa
Tan Shot Yen mengingatkan, agar sahur tetap mengikuti prinsip gizi seimbang bukan sekadar memperbanyak satu jenis makanan. Dengan komposisi yang tepat, masyarakat dapat menjaga energi tetap stabil selama berpuasa tanpa membebani tubuh dengan lonjakan gula darah yang berulang.