Pewarna Makanan Alami Bisa Merusak Lingkungan? Produsen Pangan Ini Ambil Langkah Mengejutkan
Pemasok warna alami global asal Kopenhagen, Oterra, mengambil langkah strategis dengan menggandeng platform teknologi keberlanjutan, HowGood.-Makansedap.id-Oterra
JAKARTA, Makansedap.id - Di tengah tren konsumen yang masif meninggalkan pewarna buatan dan beralih ke bahan alami, sebuah fakta mengejutkan terungkap.
Produksi pewarna makanan alami ternyata sangat bergantung pada sektor pertanian dan berisiko memicu masalah lingkungan seperti deforestasi.
Menjawab tantangan tersebut, perusahaan pemasok warna alami global asal Kopenhagen, Oterra, mengambil langkah strategis dengan menggandeng platform teknologi keberlanjutan, HowGood.
Kerja sama ini dirancang untuk memungkinkan perusahaan-perusahaan makanan dan minuman melacak jejak karbon (carbon footprint) dari pewarna alami yang mereka gunakan.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Cokelat, Raksasa Kuliner Berusia 1,7 Abad Ini Ancam Pasar Camilan
Seperti dilansir Food Dive yang dibaca Makansedap.id, Minggu, 11 Oktober 2026, langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi keberlanjutan Oterra tahun 2030 untuk mempercepat transparansi lingkungan di luar operasional internal perusahaan.
Kepala Keberlanjutan Global Oterra, Vera Karmeback, menyatakan, kolaborasi ini bertujuan untuk membantu para pelanggan dalam mengambil keputusan yang lebih tepat guna mendukung transisi sistem pangan yang berkelanjutan.
"Dengan menggabungkan keahlian mendalam Oterra pada pewarna bersumber alami dan kecerdasan keberlanjutan dari HowGood, kami dapat membantu pelanggan membuat keputusan yang lebih terinformasi," ujar Karmeback, dikutip dari Food Dive.
Sementara itu, Wakil Presiden Senior Pertumbuhan dan Inovasi HowGood, Rachel Calomeni, menegaskan, metrik keberlanjutan yang terperinci kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah keharusan bagi industri pangan.
"Hal ini penting untuk membuat kemajuan yang berarti dalam komitmen keberlanjutan, meningkatkan transparansi dengan pemasok maupun konsumen, serta memahami dampak lingkungan yang sesungguhnya dari produk mereka," kata Calomeni.
Sebelumnya, industri pewarna alami menghadapi tantangan tersendiri karena tingginya volume bahan baku yang dibutuhkan untuk menghasilkan warna cerah pada produk pangan.
Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah perusahaan mulai berinovasi, mulai dari teknik intercropping (tumpang sari) hingga pemanfaatan teknologi pertanian vertikal netral karbon yang didukung tenaga energi panas bumi.
Dengan adanya pelacakan jejak karbon baru ini, para produsen makanan diharapkan dapat mengukur dampak lingkungan secara otomatis sekaligus memenuhi tuntutan pasar global yang semakin peduli terhadap kelestarian alam.