KUALA LUMPUR, Makansedap.id – Rindu masakan Indonesia saat berada di Kuala Lumpur, Chow Kit menjadi salah satu solusi. Chow Kit merupakan salah satu daerah di pusat Kota Kuala Lumpur yang cukup terkenal bagi banyak kalangan di Malaysia yang ingin berburu kuliner khas Indonesia.

Ada juga yang menyebut Chow Kit sebagai Little Jakarta lantaran banyaknya WNI yang berada di sana. Tidak heran jika kuliner khas mudah dijumpai di kawasan itu.

Di Chow Kit , berbagai kedai Indonesia hingga restoran yang menyajikan makanan khas Indonesia, mulai dari masakan Padang, khas Jawa Timur, Jawa Tengah, Sunda, Aceh, hingga Palembang bisa ditemukan di lokasi itu. Lokasinya tersebar di antara kedai kuliner yang menyajikan masakan khas dari Malaysia atau India.

Jika ingin merasakan masakan Minang bisa menemukan restoran nasi kapau atau Restoran Sederhana yang terletak di Jalan Tuanku Abdul Rahman, Batagor dan Siomay Bandung Mang Ujang di Jalan Chow Kit, sate padang dan lontong sayur di Jalan Raja Alang, serta Bakso Sido Mampir di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Seperti dilansir Antara, kuliner khas Indonesia lainnya seperti gado-gado, pecel, rujak lontong, sate ayam maupun sate kambing hingga pempek juga dapat dijumpai di daerah tersebut. Bahkan cilok, jajanan khas Sunda yang biasa disajikan lengkap dengan bumbu kacang dan kecap. Bahkan, ada yang menjualnya di daerah tersebut.

Mintarsih Warijan, seorang WNI yang juga menggemari makanan tersebut mengatakan cukup sering menikmati cilok yang dijual di rumah toko yang tidak begitu jauh letaknya dari Stasiun Monorel Chow Kit yang ada di Jalan Tuanku Abdul Rahman.

Konsumennya bukan hanya mereka yang ada di Kuala Lumpur karena sering saat membeli ke sana bertemu juga dengan mereka yang datang dari luar kota, salah satunya dari Johor Bahru.

Beberapa kedai makanan khas Indonesia yang ada di Jalan Raja Bot dan Raja Alang, Chow Kit, beberapa waktu lalu, 6 Januari 2023, juga terlihat ramai menerima pesanan daring maupun oleh para pengunjung.

Salah satunya adalah Martabak Ningrat yang dikelola oleh pasangan suami istri asal Cirebon dan Kendal, Tono Hadi Ningrat dan Siti Rahmatun. Menurut Tono, Martabak Ningrat tersebut dipercayakan pengelolaannya kepada dirinya dan sang istri. Pemilik usaha tersebut berasal dari Indonesia, tepatnya dari Surabaya. Berdiri sejak 2021, Martabak Ningrat sudah banyak digemari bukan hanya oleh WNI di sana, melainkan juga pelanggan warga Malaysia.

Bahkan, menurut Tono, mereka pernah menerima pesanan ratusan porsi untuk hidangan di sebuah pernikahan. Mereka membuat adonan hingga memasaknya di lokasi pernikahan. Jika pada hari biasa martabaknya biasa terjual sebanyak 80 sampai dengan 90 kotak per hari, saat akhir pekan atau hari libur, angka penjualan bisa melejit hingga 130 kotak per hari.

Baca Juga:   Shin Tae Yong Percaya Diri Hadapi Uzbekistan di Semifinal

Wijsman Butter yang terpajang rapi di etalase toko dikirim langsung dari Indonesia sebagai salah satu bahan utama untuk mempertahankan kelezatan cita rasa asli Indonesia pada martabak yang mereka buat.

Berbagai macam menu martabak manis dengan topping (lapisan atas) keju, cokelat, dan bahkan selai bermerek maupun martabak asin dengan isian daging sapi ditawarkan di sana. Kisaran harga yang ditawarkan yaitu 15-30 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 53 ribu hingga Rp 106 ribu per satu porsi martabak.

Pembeli yang mungkin sedang ‘mager’ alias malas gerak untuk keluar rumah bisa memesan martabak ini secara daring melalui aplikasi atau menelepon langsung ke nomor Pak Tono dan pesanan akan dikirimkan menggunakan jasa Lalamove.

Selanjutnya, terdapat Warung Soto Lamongan (Wasola) yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari tempat usaha martabak tersebut. Warung yang banyak menyajikan menu khas Jawa Timur tersebut juga menjadi salah satu destinasi wajib bagi para pemburu kuliner Indonesia.

Kompleks Wisma Sabaruddin

Berlokasi tepat di kompleks Wisma Sabaruddin, Chow Kit, Wasola menyediakan bermacam makanan khas Indonesia, mulai dari soto lamongan, rawon, ayam penyet, bakso, pecel lele, satai kambing, hingga satai ayam.

Dinda Noraiun, mahasiswa Indonesia yang tengah melaksanakan program pertukaran pelajar di Universitas Teknikal Malaysia Melaka, kala itu terlihat sedang menikmati makanan yang ia pesan di sana bersama teman-temannya.

Dia mengaku tertarik untuk mendatangi warung tersebut setelah dirinya bersama temannya melihat ulasan pada mesin pencarian Google bahwa Wasola mempunyai rating yang cukup tinggi di sana.

“Hujan, terus kayak kepikiran enak nih yang kuah-kuah, terus kayak kangen rawon, soto. Terus pas searching di Google Maps tadi yang paling tinggi di sini, walaupun jauh bintangnya tinggi 4,7,” ujar Dinda.

Ardelia Junilla, mahasiswa Indonesia asal Jakarta yang tengah melaksanakan program pertukaran pelajar di Universitas Teknikal Malaysia Melaka, mengaku terkejut karena harga yang ditawarkan relatif murah.

“Dan juga harganya enggak beda jauh sama yang di Jawa Timur. Lebih murah malah,” kata dia.

Itu kali pertama mereka menjajal makanan Jawa Timur di Wasola dan ternyata rasanya tidak beda dengan yang dirasakannya di Jawa Timur. Dela, sapaan akrab dari Ardelia, merupakan mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sehingga cukup hapal rasa rawon yang asalnya dari Jawa Timur itu.

Dengan uang 8,5 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 30 ribu, pengunjung sudah dapat menyantap Soto Lamongan beserta nasi putih. Menu lainnya juga bisa dinikmati dengan harga rata-rata di bawah 14 Ringgit Malaysia sekitar Rp 49 ribu per porsi.

Kerinduan mereka terhadap makanan Indonesia terbayar tuntas dengan menikmati rawon di Wasola. Rasanya autentik dan enak sesuai dengan rating yang ada dan suasana warung yang terlihat Indonesia banget.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan