Obat Diet GLP-1 Ancam Nilai Merek Snack Raksasa hingga Rp 1.100 Triliun
Peningkatan penggunaan obat diet ini menempatkan nilai merek makanan cepat saji dan camilan senilai US$ 73 miliar (sekitar Rp 1.100 triliun) dalam posisi berisiko.-Makansedap.id-PepsiCo
WASHINGTON DC, Makansedap.id — Populer akibat kemampuannya menekan nafsu makan, obat pemangkas berat badan berbasis GLP-1 kini menjadi tantangan nyata bagi industri makanan raksasa dunia.
Menurut laporan terbaru konsultan Brand Finance, peningkatan penggunaan obat diet ini menempatkan nilai merek makanan cepat saji dan camilan senilai US$ 73 miliar (sekitar Rp 1.100 triliun) dalam posisi berisiko.
Dari total nilai 100 merek makanan terbesar di dunia yang mencapai US$ 278 miliar, sekitar seperempatnya terancam mengalami penurunan konsumsi akibat bergesernya pola makan masyarakat.
Merek Snack Raksasa Paling Terpukul
Riset tersebut mencatat bahwa merek keripik kentang ternama Lay's menjadi merek yang paling terdampak secara global.
Sekitar US$ 6,8 miliar dari total US$ 15,1 miliar nilai merek milik Lay's berada di kategori sensitif terhadap dampak obat GLP-1.
Secara keseluruhan, lima merek camilan utama milik PepsiCo, termasuk Lay's, Doritos, dan Cheetos, menghadapi paparan risiko nilai hingga US$ 14,1 miliar.
Tak hanya PepsiCo, merek ternama lain seperti Hershey's, Kellogg's, dan Reese's juga masuk dalam daftar merek Amerika Serikat yang paling rentan.
Secara statistik, kategori cokelat, permen, dan camilan gurih (savory snacks) menyumbang 53% dari total nilai merek yang berisiko, walaupun kategori ini hanya mencakup 30% dari seluruh nilai industri makanan global.
BACA JUGA:Raksasa Makanan Dunia Merugi di Amerika Utara? Bos Nestlé Blak-blakan Ungkap Kekecewaannya
Perubahan Perilaku Konsumen
Berdasarkan data survei Gallup, sekitar 11% orang dewasa di AS saat ini mengonsumsi obat penekan nafsu makan GLP-1.
Angka ini melonjak hampir empat kali lipat dari posisi 3% pada 2024.