Bukan Dugem Lagi, Tren Dunia Malam Bergeser, Bar Ini Larang Pengunjung Berteriak Histeris?

Bukan Dugem Lagi, Tren Dunia Malam Bergeser, Bar Ini Larang Pengunjung Berteriak Histeris?

Masyarakat urban di kota-kota besar dunia seperti Tokyo, Seoul, London, New York, Singapura, hingga Mumbai mulai beralih ke konsep baru yang disebut listening bar alias bar dengar.-Makansedap.id-Karishma Sakhrani travelandleisureasia.com

- -

JAKARTA, Makansedap.id - Dunia hiburan malam global tengah mengalami pergeseran tren yang signifikan.

Jika selama bertahun-tahun tolok ukur kesuksesan pesta diukur dari dentuman musik yang memekakkan telinga, kini masyarakat urban di kota-kota besar dunia seperti Tokyo, Seoul, London, New York, Singapura, hingga Mumbai mulai beralih ke konsep baru yang disebut listening bar alias bar dengar.

Di bar jenis ini, musik bukan lagi sekadar latar belakang suara untuk menemani obrolan, melainkan menu utama dari tempat tersebut.

Pengunjung sengaja datang bukan untuk berjoget atau saling berteriak di tengah kebisingan, melainkan untuk duduk tenang, menikmati koktail, dan mendengarkan musik dengan kualitas audio premium.

BACA JUGA:Posisi London Tergeser, Dua Kota Ini yang Jadi Rajanya Dunia Malam

Konsep listening bar sebenarnya berakar dari kebudayaan Jepang pada awal abad Ke-20 yang dikenal dengan nama jazz kissaten.

Kafe-kafe kecil di Jepang kala itu menyediakan ruang khusus bagi masyarakat untuk mengapresiasi piringan hitam atau vinyl jazz impor yang mahal melalui sistem pemutar suara (sound system) berkualitas tinggi.

Tren masa lalu ini kini diadaptasi secara modern ke dalam industri hiburan malam dengan skala ruangan yang lebih besar serta variasi hidangan yang lebih mewah.

Fenomena ini juga dipicu oleh kejenuhan masyarakat terhadap era digital.

BACA JUGA:Netizen TikTok Ramai-Ramai Campur Sup Tomat Kalengan ke Adonan Kue, Ternyata Ini Rahasia Kelezatannya

Seperti dilansir dari travelandleisureasia.com yang dibaca Makansedap.id, Senin, 18 Mei 2026, layanan streaming musik daring dinilai membuat pengalaman mendengarkan musik menjadi terlalu instan dan pasif.

Sebaliknya, listening bar menawarkan ritual fisik piringan hitam, mulai dari mengeluarkan piringan dari sampulnya, membersihkannya, hingga menurunkan jarum pemutar yang memberikan keintiman tersendiri antara pendengar dan karya seni musik.

Kendati mengusung konsep mendengarkan secara saksama, beberapa bar di luar Jepang menerapkan aturan yang lebih fleksibel.

Di Idoru Mumbai misalnya, pengelola tidak mewajibkan keheningan total layaknya di dalam ruang kelas, melainkan hanya mengondisikan agar volume obrolan pengunjung tetap rendah sehingga tidak mendominasi ruangan.

BACA JUGA:Rahasia Glowing Luar Dalam! Influencer Cibinong Bongkar Khasiat Rempah Temulawak Madu yang Lagi Viral