Buah Sitrun dan Rempah Jadi Penggerak Inovasi Menu di Seluruh Asia

Buah Sitrun dan Rempah Jadi Penggerak Inovasi Menu di Seluruh Asia

Cita rasa buah sitrun dan rempah-rempah semakin banyak ditemui di restoran cepat saji.-Makansedap.id-Creative Diagnostics

- -

JAKARTA, Makansedap.id - Perpaduan cita rasa buah sitrun dan rempah-rempah yang sebelumnya identik dengan jajanan kaki lima dan masakan rumahan, kini semakin mudah ditemui dalam menu restoran cepat saji dan minuman. 

Tren ini mencerminkan selera konsumen terhadap cita rasa yang kuat namun seimbang, serta menjadi fokus utama dalam program promosi terbaru Kerry di segmen food service.

Data Mintel GNPD 2023–2025 menunjukkan, produk dengan kombinasi rasa pedas-masam atau spicy citrus di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan tahun majemuk (CAGR) sebesar 42%, jauh melampaui banyak tren cita rasa lain. Secara global, peluncuran produk baru dengan cita rasa spicy meningkat 22%. Tren chili lime sangat mudah ditemui dalam kategori produk camilan, saus, dan produk siap saji. 

Momentum ini juga tecermin dari nilai pasar ghost pepper salsa di Asia Pasifik kini mencapai US$ 210 juta dengan CAGR sebesar 9,1% hingga 2033. Di sisi lain, nilai pasar produk yang memadukan bahan acar jalapeño dengan rasa limau dan spicy citrus diproyeksikan mencapai US$ 2,13 miliar pada tahun yang sama.

BACA JUGA:Kuliner Jadi Daya Tarik Discover Singkawang Culinary

"Data ini mencerminkan pengaruh selera konsumen terhadap menu makanan," ujar Angeline Ho, Marketing Lead, Food Service Chains, Asia Tenggara, Kerry Group. 

"Di Asia, konsumen menyukai rasa makanan yang menggugah namun tetap bersih, kuat namun familiar. Perpaduan rasa buah sitrun dan rempah-rempah sangat digemari, sebab memberikan kontras yang seimbang, kesegaran yang menandingi cita rasa kompleks, serta sensasi pedas yang memberi energi tanpa berlebihan. Dari sudut pandang food service, keunggulan tersebut merupakan kombinasi yang sangat praktis dan mudah diterapkan untuk berbagai jenis masakan, format produk, dan segmen harga," kata Angeline Ho.

Daya tarik rasa buah sitrun dan rempah-rempah telah mengakar kuat dalam tradisi kuliner Asia Tenggara. Sajian tom yum dan som tum dari Thailand menunjukkan keseimbangan antara rasa jeruk nipis, cabai, dan aneka herba. 

Masakan Vietnam juga memanfaatkan lemon, asam jawa, dan cabai sebagai dasar hidangan yang lebih ringan, Indonesia memadukan cita rasa jeruk nipis, jahe, cengkeh, dan cabai untuk menciptakan hidangan yang kaya rasa dan aromatic. 

BACA JUGA:Alasan Hotel Borobudur Jakarta Gelar Discover Timeless Harmony, Ini Penjelasannya

Sedangkan, Filipina menggunakan calamansi dan cabai untuk memberikan kesegaran pada hidangan gurih. Singapura dan Malaysia terus menafsirkan kembali cita rasa sambal dan buah sitrun dengan sentuhan modern, seperti gula melaka dan garam jeruk hitam, sehingga memadukan tradisi dengan inovasi masa kini.

Sosok chef dan pengusaha restoran asal Malaysia yang sukses meraih berbagai penghargaan, Yenni Law, salah satu pendiri @meatfeds serta pemenang Le Cordon Bleu Ribbon ASEAN Award 2025, menyoroti makna kultural di balik tren tersebut. 

"Di Asia, kita memiliki rempah-rempah dan herba yang serupa, dan makanan adalah bahasa yang menyatukan kita. Perpaduan rasa buah sitrun dan rempah-rempah menghadirkan keutuhan dan keharmonisan dalam sebuah hidangan," ujar dia.

Bagi pelaku industri food service, profil rasa buah sitrun dan rempah-rempah menawarkan fleksibilitas yang luas. Rasa buah sitrun mampu memberikan kesegaran pada bahan protein yang digoreng atau dipanggang.