Badai PHK Raksasa Makanan Minuman, 30.000 Pekerja Dirumahkan, Pabrik Berbondong-bondong Tutup
Tyson Foods, misalnya, terpaksa menutup sejumlah fasilitas akibat kelangkaan pasokan daging sapi yang membebani neraca keuangan perusahaan.-Makansedap.id-CFO Editorial Staff
NEW YORK, Makansedap.id - Industri makanan dan minuman global tengah menghadapi guncangan hebat.
Menurunnya daya beli konsumen serta perubahan tren pola makan membuat perusahaan-perusahaan raksasa terpaksa mengambil langkah drastis berupa penutupan fasilitas produksi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal secara agresif.
Berdasarkan data dari perusahaan penempatan kerja eksekutif Challenger, Gray & Christmas, produsen makanan dan minuman telah memangkas total 29.693 pekerja hingga September.
Angka ini mencatatkan lonjakan drastis sebesar 76 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang mencatat 16.835 pemutusan tenaga kerja.
BACA JUGA:Akhir 2027, Raksasa Makanan Minuman Nestlé Tutup Pabrik di Ohio
Gelombang pemangkasan ini didorong oleh krisis yang mendera sektor makanan pada Agustus dan September.
Produsen makanan memangkas 7.982 pekerjaan pada Agustus, sebagian besar dipicu oleh penutupan tiga fasilitas oleh Tyson Foods, diikuti oleh 7.326 pemangkasan tambahan pada September.
Sejumlah merek raksasa global seperti Nestlé, PepsiCo, Diageo, hingga Campbell's turut mengumumkan penutupan pabrik guna menyederhanakan operasi dan berfokus pada area bisnis yang lebih menguntungkan di tengah kelesuan pasar.
Tyson Foods, misalnya, terpaksa menutup sejumlah fasilitas akibat kelangkaan pasokan daging sapi yang membebani neraca keuangan perusahaan.
BACA JUGA:Raksasa Makanan Dunia Merugi di Amerika Utara? Bos Nestlé Blak-blakan Ungkap Kekecewaannya
Sementara itu, PepsiCo menutup pabrik pembotolan di Tennessee dan Maryland akibat penurunan penjualan minuman soda serta pergeseran preferensi konsumen.
Langkah efisiensi masif ini diambil para raksasa industri demi bertahan di tengah tekanan ekonomi yang belum stabil.
Dengan semakin ketatnya persaingan dan preferensi konsumen yang kian cepat berubah, restrukturisasi bisnis dan penutupan fasilitas dinilai sebagai jalan paling realistis agar perusahaan tetap dapat bernapas di masa depan.