Daging dan Keju Tersingkir, Tahu Sumber Protein Terbaik di Dunia Versi Riset Universitas Cambridge

Daging dan Keju Tersingkir, Tahu Sumber Protein Terbaik di Dunia Versi Riset Universitas Cambridge

Tahu yang selama ini sering dianggap sebagai makanan sederhana, kini berhasil membuktikan keunggulannya di tingkat dunia.-Makansedap.id-Ahirao Photo Getty Images

- -

JAKARTA, Makansedap.id - Tahu yang selama ini sering dianggap sebagai makanan sederhana, kini berhasil membuktikan keunggulannya di tingkat dunia.

Berdasarkan riset terbaru yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Cambridge, Dr. Chris Macdonald, tahu dinobatkan sebagai sumber protein terbaik di dunia mengalahkan daging sapi, telur, hingga keju.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Sustainable Food Systems ini menggunakan sistem penilaian baru bernama Better Protein Institute (BPI) Score.

Penilaian tersebut mengukur 20 jenis bahan makanan berdasarkan kombinasi nilai gizi, dampak lingkungan, keterjangkauan harga, serta ketersediaan produk di pasar.

BACA JUGA:Tempbar, Inovasi Protein Berbasis Tempe Indonesia dengan Komitmen Pembelian US$1 Juta dari Pasar Australia

Dalam pemeringkatan tersebut, tahu berhasil meraih skor tertinggi, yakni 36 dari total 40 poin.

Keunggulan utama tahu terletak pada kategori Planet Score (dampak lingkungan) dengan meraih nilai sempurna 16 dari 16 poin.

Sebagai perbandingan, proses produksi 100 gram protein dari tahu hanya menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 0,61 kilogram CO₂e dan membutuhkan lahan 2,16 meter persegi.

Angka ini jauh lebih efisien dibandingkan daging sapi yang menghasilkan 64,19 kilogram CO₂e serta memerlukan lahan hingga 211,38 meter persegi.

BACA JUGA:Bisnis Protein Kacang Polong Puris Senilai Rp 3,4 Triliun Jadi Amunisi Baru Generasi Ozempic

Sebaliknya, kelompok makanan berbasis hewani mendominasi peringkat papan bawah.

Keju cheddar berada di posisi paling buncit dengan skor 13 dari 40 poin, disusul oleh daging sapi dan daging domba.

Posisi empat besar seluruhnya dikuasai oleh bahan makanan berbasis nabati, yaitu tahu di peringkat pertama, diikuti oleh biji chia (chia seeds), kacang-kacangan (beans), dan kuinoa (quinoa).

Dr. Chris Macdonald menjelaskan, indikator penilaian gabungan ini sangat penting agar konsumen tidak hanya melihat gizi makanan secara sempit.

BACA JUGA:Selain Susu Sapi, Ini Daftar Pilihan Pangan Lokal Kaya Protein dan kalsium