Turunkan Harga Roti, Sara Lee Berani Kucurkan Dana Rp 16 Triliun
Presiden Bimbo Bakeries USA, Greg Koehrsen, mengakui, daya beli konsumen di AS saat ini sedang menghadapi tekanan berat akibat inflasi.-Weradio.co.id-Bimbo Bakeries
DALLAS, Weradio.co.id - Produsen roti terbesar di dunia asal Meksiko sekaligus pemilik merek legendaris Sara Lee, Grupo Bimbo, membuat gebrakan besar di pasar Amerika Serikat (AS).
Perusahaan raksasa ini resmi mengumumkan rencana investasi fantastis senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 16,1 triliun (asumsi kurs Rp 16.100) untuk dua tahun ke depan.
Kabar baik bagi konsumen, suntikan dana super besar ini sengaja dialokasikan untuk membiayai inovasi produk, meningkatkan kandungan nutrisi, serta menjaga harga produk agar tetap murah dan terjangkau di tengah tekanan ekonomi global.
Direktur Keuangan (CFO) Grupo Bimbo, Diego Gaxiola, menegaskan, langkah strategis ini sejalan dengan rencana jangka panjang perusahaan untuk memperkuat posisi mereka di AS yang saat ini menjadi salah satu pasar terbesar mereka.
"Investasi ini memperkuat komitmen kami di pasar AS serta fokus kami dalam mendorong pertumbuhan dan inovasi," ujar Gaxiola dalam keterangan resmi yang dilansir Forbes dan dibaca Makansedap.id, Selasa, 26 Mei 2026.
Selain untuk menekan harga jual roti agar lebih ramah di kantong masyarakat, dana tersebut juga akan digunakan untuk memperluas kemitraan pertanian regeneratif dengan para pemasok bahan baku guna mendukung keberlanjutan lingkungan.
Langkah ekspansi ini dilakukan tidak lama setelah Grupo Bimbo memindahkan kantor pusatnya di AS dari Horsham, Pennsylvania, ke wilayah Dallas, Texas.
Pemindahan ini sengaja dilakukan agar posisi manajemen lebih sentral dan lebih dekat dengan kantor pusat global mereka di Kota Meksiko.
BACA JUGA:Trik Rahasia Koki Profesional Memanfaatkan Buah Berbintik Hitam, Cara Ini Bikin Hemat Kantong
Strategi jorjoran Grupo Bimbo ini dinilai sangat tepat waktu. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, penjualan bersih mereka di kawasan Amerika Utara melonjak 0,7 persen menjadi US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 38,6 triliun.
Wilayah ini menyumbang 43 persen dari total penjualan global Bimbo dan menunjukkan tren stabilisasi yang positif setelah sempat melambat dalam tiga tahun terakhir.
Presiden Bimbo Bakeries USA, Greg Koehrsen, mengakui, daya beli konsumen di AS saat ini sedang menghadapi tekanan berat akibat inflasi.
Oleh karena itu, perusahaan merespons tantangan tersebut dengan meluncurkan berbagai inovasi produk yang efisien, seperti roti dengan porsi kemasan yang lebih kecil, varian roti kaya serat dan protein, hingga peluncuran rasa musiman.
BACA JUGA:Lewat Brew Takeover, IKEA Indonesia Sajikan Cara Sederhana Menikmati Kopi di Rumah