Kebijakan Ekstrem CEO Baru Nestlé, Jual Aset Lesu, PHK Massal, hingga Fokus Kopi dan Makanan Beku

Kebijakan Ekstrem CEO Baru Nestlé, Jual Aset Lesu, PHK Massal, hingga Fokus Kopi dan Makanan Beku

Nestlé, mulai membuahkan hasil positif dari strategi perombakan besar-besaran di bawah kepemimpinan CEO baru, Philipp Navratil.-Makansedap.id-Christopher Doering Food Dive

- -

JAKARTA, Makansedap.id - Di tengah hantaman tekanan ekonomi global dan daya beli konsumen yang kian menipis, raksasa makanan terbesar dunia, Nestlé, mulai membuahkan hasil positif dari strategi perombakan besar-besaran di bawah kepemimpinan CEO baru, Philipp Navratil.

Setelah menjabat sejak September 2025, Navratil langsung mengambil langkah berani dengan memangkas sekitar 16.000 tenaga kerja atau setara dengan 6% dari total tenaga kerja global dalam kurun waktu dua tahun.

Tidak hanya itu, dia juga gencar mendivestasikan atau menjual lini bisnis dengan pertumbuhan lambat, mulai dari unit air minum premium, sebagian besar sisa bisnis es krim, hingga produk vitamin, demi memfokuskan kembali tenaga perusahaan pada inovasi produk makanan ringan dan kopi.

Strategi drastis ini terbukti mulai menunjukkan tajinya. Pada kuartal ketiga, Nestlé mencatatkan total penjualan yang solid sebesar US$ 27,69 miliar (22,756 miliar franc Swiss) dengan pertumbuhan organik mencapai 4%.

BACA JUGA:Akhir 2027, Raksasa Makanan Minuman Nestlé Tutup Pabrik di Ohio

Pertumbuhan volume penjualan riil (real internal growth) di Amerika Utara melonjak naik sebesar 1,8%, berbalik arah dari penurunan 0,6% pada kuartal sebelumnya.

"Kami mulai melihat perbaikan dalam cara organisasi bertransformasi serta dalam hasil keuangan kami. Ini memberi saya keyakinan bahwa kami berada di jalur yang benar," ujar Navratil kepada para analis seperti dilansir Food Dive yang dibaca Makansedap.id, Minggu, 25 Oktober 2026.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa dirinya belum merasa puas sepenuhnya lantaran masih banyak potensi bisnis yang harus digali lebih dalam.

Di pasar Amerika Utara yang menjadi lumbung pendapatan utama, lini bisnis makanan ringan (snacking) dan produk makanan beku (frozen foods) seperti merek Stouffer’s dan DiGiorno dilaporkan mengalami pertumbuhan yang kuat serta mendulang tambahan pangsa pasar (market share).

BACA JUGA:Raksasa Makanan Dunia Merugi di Amerika Utara? Bos Nestlé Blak-blakan Ungkap Kekecewaannya

Sementara itu, lini produk kopi seperti Starbucks dan Nescafé juga bangkit kembali setelah sebelumnya sempat menaikkan harga jual akibat lonjakan biaya bahan baku.

Meski demikian, jalan panjang pemulihan Nestlé belum sepenuhnya bebas hambatan.

Unit bisnis nutrisi bayi dan makanan anak di bawah merek Gerber masih dinilai kendor dan belum mencapai potensi maksimalnya pada kuartal ketiga lalu. Guna mengatasi masalah tersebut, Gerber baru saja meluncurkan produk minuman hidrasi khusus anak pada September lalu sebagai salah satu upaya revitalisasi merek yang telah berusia seabad itu.

Ke depan, manajemen Nestlé tidak menutup kemungkinan untuk kembali menyesuaikan harga jual produk seiring masih tingginya tekanan biaya bahan baku di tengah ketidakpastian pasar global, demi menjaga kelangsungan bisnis jangka menengah tanpa merusak daya jangkau konsumen.

BACA JUGA:Pangkas Plastik Besar-besaran, Nestlé Bocorkan Strategi Baru hingga 2030

Berita Terkait