Wah, Kebiasaan Ngopi Bisa Bikin Tingkat Kecemasan Semakin Bertambah

Wah, Kebiasaan Ngopi Bisa Bikin Tingkat Kecemasan Semakin Bertambah

Kopi merupakan minuman paling populer di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.-Makansedap.id-Real Me

- -

BACA JUGA: Komitmen Keberlanjutan Berbuah Prestasi, Hotel Borobudur Jakarta Raih Tiga Penghargaan

“Nah masalah kopi ini juga, mungkin banyak individu ketika menghentikan kopinya dia muncul sakit kepala. Jadi kafein itu bukan dianggap sebagai molekul yang biasa-biasa saja dalam kondisi berlebihan, itu juga menyebabkan sakit kepala. Bisa dikatakan adiksi. Makanya kalau sudah mengonsumsi kopi dalam jumlah banyak dan mau menghentikan dia harus diturunkan perlahan-perlahan,” ungkap dokter yang khusus menangani migren dan nyeri kepala tersebut.

Sakit Kepala

Selain itu, menurut dokter yang telah mengikuti program pendidikan dan serangkaian protokol tentang penanganan dini kegawatdaruratan neurologis dari Neurocritical Care Society ini juga mengatakan masalah lain yang kerap terjadi di masyarakat adalah kebiasaan mengatasi sakit kepala dengan pil pereda nyeri atau analgesik.

"Tanpa disadari, pola konsumsinya dapat meningkat. Hal tersebut tentu menjadi masalah serius yang justru dapat memicu medication overuse headache atau sakit kepala yang muncul akibat konsumsi analgesik yang berulang dan tidak terkontrol," kata dr Kevin Mulya.

Terlebih, penggunaan obat pereda nyeri kepala yang berlebihan dapat menyebabkan risiko pada kerusakan fungsi hati dan menyebabkan radang pada lambung.

BACA JUGA:Meningkatkan Kadar Vitamin D Bisa Kurangi Risiko Kanker Usus Besar

Bila dilihat dari komposisinya, biasanya obat generik yang mudah didapatkan di sekitar rumah seperti di warung, mengandung parasetamol dan kafein yang berfungsi meredakan sakit kepala dan nyeri serta menurunkan demam. Bahan tersebut jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dapat berisiko menimbulkan komplikasi.

“Ini menjadi suatu permasalahan yang belum banyak dibahas. Individu yang mengonsumsi obat pil nyeri untuk meredakan sakit kepala, biasanya berpotensi mengonsumsi lebih sering. Dari satu hari sekali, menjadi 2 kali sehari, 3 kali sehari, sampai 3 kali 2 butir sehari dan seterusnya,” ungkap dr Kevin Mulya.

Kondisi tersebut menurut dr Kevin Mulya sering tidak disadari pasien karena keluhannya tampak seperti sakit kepala biasa, padahal kejadian tersebut terjadi akibat perubahan sensitivitas sistem saraf pusat terhadap obat.

Padahal, parasetamol memiliki batas maksimal 4 gram per hari atau sekitar delapan butir.

BACA JUGA:Ini Enam Rekomendasi Camilan untuk Kesehatan Jantung

Untuk itu, dr Kevin Mulya menganjurkan tidak semua keluhan pusing atau sakit kepala langsung diatasi dengan membeli obat bebas hingga mengurangi ketergantungan dengan meminum kopi.

"Sebab, sakit kepala adalah penyakit yang sering terjadi pada setiap orang, dan biasanya jika beristirahat tentunya keluhan ini akan menghilang dengan sendirinya. Namun, bila sakit kepala cenderung tidak lekas membaik setelah beristirahat, individu itu perlu berkonsultasi ke dokter untuk memastikan penyebabnya dan mencegah risiko penggunaan obat yang salah," demikian kata dr Kevin Mulya S, Sp.N-FMIN.

 

Berita Terkait